I Putu Darmayasa, S.Pd., M.For., dkk.
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peningkatan kualitas pelatihan fisik di Kabupaten Buleleng. Selama ini, pembinaan olahraga di tingkat daerah masih banyak dilakukan berdasarkan pengalaman dan pengamatan subjektif, tanpa didukung oleh data kebugaran standar yang memadai. Kondisi ini berdampak pada efektivitas latihan, karena program yang disusun belum sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan fisiologis masing-masing cabang olahraga. Menghadapi target mempertahankan peringkat ketiga di ajang PORPROV XVI Bali 2025, KONI Buleleng memerlukan pendekatan ilmiah berbasis data dan teknologi olahraga agar pelatih mampu menyusun program latihan yang optimal, sistematis, dan terukur.
Workshop ini dilaksanakan berkat kerja sama antara KONI Buleleng dan Ganesha Sport Center (Fakultas Olahraga dan Kesehatan Undiksha), sebuah pusat olahraga yang dilengkapi fasilitas pengukuran kondisi fisik modern serta sumber daya manusia yang terdiri dari profesor, doktor, dan praktisi olahraga. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Bapak I Ketut Wiratmaja, SH selaku Ketua Umum KONI Buleleng, yang menegaskan bahwa peningkatan kapasitas pelatih merupakan investasi jangka panjang bagi prestasi olahraga Buleleng. Narasumber yang dihadirkan mencakup tokoh akademik dan praktisi olahraga terkemuka: Dr. I Ketut Yoda, S.Pd., M.Or. (Dekan FOK Undiksha) yang memaparkan strategi peningkatan kebugaran berbasis hasil tes ilmiah; Dr. Suratmin, S.Pd., M.Or. (Dosen Prodi PKO, FOK Undiksha) yang memberikan materi tentang perencanaan periodisasi latihan; dan I Putu Darmayasa, S.Pd., M.For. (Dosen Prodi PJKR, FOK Undiksha) yang menyampaikan teknik-teknik praktis dalam melatih kondisi fisik atlet. Peserta kegiatan berjumlah 15 orang pelatih yang mewakili 15 cabang olahraga unggulan KONI Buleleng, dipilih secara khusus agar pelatihan ini berdampak langsung pada pembinaan atlet di masing-masing cabang.
Analisis situasi yang menjadi dasar penyelenggaraan workshop menunjukkan fakta penting terkait ketimpangan prestasi KONI Buleleng. Meskipun berhasil meraih posisi ketiga pada PORPROV XV 2022 dengan 75 medali emas, 71 medali perak, dan 102 medali perunggu, kontribusi medali sangat timpang. Sebanyak 63% medali emas diperoleh dari enam cabang olahraga keterampilan teknis seperti panahan, catur, selam, karate, panjat tebing, dan pétanque. Sementara cabang olahraga beregu dan berenergi tinggi, yang menuntut kapasitas fisik prima seperti sepak bola, bola basket, dan bola voli, hanya menyumbang kurang dari 10% emas. Kondisi ini mengindikasikan adanya kesenjangan pembinaan, di mana variabel kebugaran jasmani, daya tahan kardiorespirasi, kekuatan otot, fleksibilitas, dan komposisi tubuh atlet tidak dipetakan secara sistematis. Akibatnya, program latihan fisik cenderung “sama rata” dan tidak mempertimbangkan karakteristik fisiologis unik setiap cabang olahraga. Tanpa baseline data kebugaran yang jelas, proses periodisasi latihan menjadi spekulatif dan berpotensi tidak efisien.
Dalam sesi materi, para narasumber menekankan urgensi penerapan protokol tes fisik yang sahih dan konsisten. Multi-Stage Fitness Test (MSFT) dijelaskan sebagai standar emas untuk mengestimasi VO₂ max secara lapangan, dengan validitas tinggi untuk cabang olahraga intermiten seperti sepak bola dan bola basket. Cooper Test dipaparkan sebagai alternatif yang sederhana namun efektif untuk mengukur kapasitas aerobik, sementara ALPHA Fitness Battery dianggap ideal untuk penilaian kekuatan otot, fleksibilitas, dan adipositas tubuh. Selain itu, teknik pengukuran seperti counter-movement jump dan hand-grip strength dibahas sebagai indikator penting kekuatan eksplosif dan fungsional. Data yang diperoleh dari tes-tes ini menjadi landasan utama dalam merancang program latihan yang tepat sasaran, mengidentifikasi area kelemahan atlet, meminimalkan risiko cedera, dan meningkatkan kesiapan kompetisi. Contoh kasus yang disampaikan adalah atlet voli putra Buleleng yang memiliki rata-rata tinggi lompatan CMJ di bawah standar optimal, sehingga memerlukan intervensi plyometrik khusus dalam program latihannya.
Permasalahan pokok yang ditemukan selama diskusi adalah rendahnya tingkat pemahaman dan keterampilan pelatih dalam memanfaatkan data hasil tes fisik sebagai dasar perencanaan latihan. Banyak pelatih yang mengaku belum familiar dengan interpretasi hasil tes dan cara mengintegrasikannya ke dalam periodisasi. Sebagian besar masih mengandalkan metode tradisional seperti peningkatan volume latihan tanpa memperhitungkan intensitas optimal berdasarkan data fisiologis. Oleh karena itu, tujuan kegiatan ini bukan sekadar memberikan pemahaman teoritis, tetapi juga membekali pelatih dengan keterampilan teknis dalam menyusun, melaksanakan, dan mengevaluasi program latihan fisik berbasis data.
Manfaat kegiatan ini diharapkan bersifat berlapis. Bagi pelatih cabang olahraga KONI Buleleng, workshop ini memberikan bekal langsung untuk merancang program latihan yang spesifik, terukur, dan sesuai dengan kebutuhan cabang olahraga yang mereka tangani. Pelatih juga diharapkan mampu memanfaatkan hasil tes fisik sebagai acuan dalam menentukan jenis latihan, intensitas, durasi, dan frekuensi yang optimal. Bagi KONI Buleleng, kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat pembinaan prestasi, mengurangi risiko cedera pada atlet, dan meningkatkan efisiensi latihan. Secara lebih luas, pendekatan ini dapat menjadi model pembinaan olahraga daerah yang terukur dan berkelanjutan.
Metode pelaksanaan workshop dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang komprehensif. Sesi dimulai dengan ceramah yang menyampaikan kerangka teori dan hasil riset terkini di bidang ilmu keolahragaan. Dilanjutkan dengan diskusi interaktif yang memberi kesempatan bagi peserta untuk mengangkat permasalahan spesifik yang dihadapi dalam pembinaan atlet. Setelah itu, dilakukan praktik langsung penyusunan program latihan berbasis hasil tes fisik yang sebelumnya telah dipaparkan. Sesi coaching clinic memberikan simulasi penerapan program di lapangan, di mana pelatih dapat mempraktikkan teknik dan metode latihan sesuai dengan rekomendasi hasil pengukuran. Pendekatan ini memastikan pelatih tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu mengimplementasikannya secara nyata.
Evaluasi keberhasilan program dilakukan melalui lima indikator kinerja, yaitu pendampingan penyusunan program latihan fisik, kemampuan menyusun program sesuai kebutuhan cabang olahraga, penerapan program di lapangan, keberhasilan pelaksanaan coaching clinic, dan kemampuan melakukan evaluasi pasca kegiatan. Evaluasi ini bertujuan untuk memastikan bahwa ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama workshop dapat diimplementasikan secara berkelanjutan di lingkungan pembinaan masing-masing pelatih. Dengan adanya proses evaluasi ini, keberhasilan program tidak hanya diukur pada saat pelatihan berlangsung, tetapi juga pada dampaknya terhadap peningkatan prestasi atlet di masa mendatang.
PELAKSANAAN WORKSHOP PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN KONDISI FISIK BAGI PELATIH OLAHRAGA KONI BULELENG



(I Putu Darmayasa, S.Pd., M.For)

(I Putu Darmayasa, S.Pd., M.For)

I Ketut Wiratmaja, SH (Ketua Umum KONI Buleleng)

I Ketut Wiratmaja, SH (Ketua Umum KONI Buleleng)



