Singaraja, 11 September 2026 – Pusat Studi Perempuan dan Perlindungan Anak Undiksha menyelenggarakan kegiatan “Sosialisasi Edukasi Perilaku Seks yang Aman dan Sehat bagi Remaja” yang bekerjasama dengan Kisara (Kita Sayang Remaja) yang merupakan pusat informasi kesehatan reproduksi dan layanan ramah remaja yang dikelola dengan pendekatan dari, oleh, dan untuk remaja. KISARA secara historis dan administratif merupakan program atau unit kegiatan di bawah naungan PKBI (Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia) Daerah Bali.
Sosialisasi ini dipandang sangat krusial mengingat masa remaja adalah fase transisi kritis dengan kematangan seksual yang tidak selalu dibarengi dengan pemahaman risiko yang matang. Tanpa edukasi yang tepat, remaja rentan mengambil keputusan keliru yang berdampak jangka panjang bagi masa depan mereka.
Kegiatan ini diawali dengan sambutan oleh Ketua LPPM Undiksha, Prof. Dr. I Gusti Lanang Agung Parwata, S.Pd., M.Kes. Dalam arahannya beliau menegaskan pentingnya mahasiswa mengetahui dan memahami prihal pendidikan seks bagi remaja yang sekaligus calon pemimpin masa depan. Pesan utama yang disampaikan kegiatan sosialisasi ini bukanlah dimaksudkan untuk mengajarkan mahasiswa mempraktekkan hubungan seksual, namu lebih dimaksudkan sebagai upaya peningkatan literasi mahasiswa terhadap pengetahuan seksual dengan berbagai resiko yang menyertai.
Narasumber yang memberikan materi adalah dr. Kadek Edy Sukarma S, Ked sebagai Tim Kisara cabang Buleleng dan sekaligus alumni Fakultas Kedokteran Undiksha. Diawali dengan penyampaian jargon My Body, My Future menjadi penegas bahwa mahasiswa harus menyadari bahwa sebagai manusia punya otoritas untuk menentukan tubuhnya hari ini dan kedepannya. Oleh karenanya, pentingnya kiranya mahasiswa sebagai remaja dewasa menemukenali tubuhnya dan menyadari ancaman terhadap tubuh mereka. Pemadatan materi yang diberikan meliputi beberapa topik ini yakni: permasalahan remaja; kesehatan reproduksi; perubahan pada remaja; pentingnya belajar kesehatan reproduksi; organ reproduksi; hak kesehatan seksual dan reproduksi; insfeksi menular seksual; rumus antisipasi (ABCD); kekerasan seksual; piramida pemerkosaan dan dampaknya; tips bertindak jika menjadi teman, korban atau tim sasgas PPKS. Di sela-sela penyampaian topik, narasusmber juga mengajak peserta mencari jawaban tentang apakah kesehatan reproduksi hanya penting untuk perempuan?; berhubungan seks atau mengirim foto intim dengan pacar merupakan bukti cinta?. Secara aklamasi dan ditegaskan oleh beberapa orang peserta bahwa urusan kesehatan reproduksi bukan hanya penting bagi perempuan tetapi juga bagi kaum laki-laki. Peserta umumnya tidak setuju bahwa pembuktian akan cinta di fase berpacaran harus menjadikan tubuh perempuan sebagai objek penyaluran seks laki-laki. Dalam kaitan ini nara sumber mengasosiasikan perempuan sebagai membrane yang sering merujuk pada Selaput Dara (Hymen) dan Membran Mukosa (Lapisan Dalam Vagina). Dalam konteks ini, perempuan harus sangat berhati-hati menjaganya, punya pengetahuan tentangnya, dan punya hak membuka membrane adalah otonomi perempuan, karena pada hakekatnya laki-laki acapkali memposisikan dirinya ofensif (penyerang) yang selalu mencoba menyalurkan hasrat seksualnya. Ketangguhan perempuan diuji dari kekuatan daya serang laki-laki.
Pada umumnya, peserta sangat antusias mengikuti acara sosialisasi karena nara sumber mampu menciptakan suasan yang dialogis yang dilengkapi dengan ilustrasi dan pemetaan kasus yang ditangani oleh PKBI Buleleng, sehingga menambah wawasan peserta tentang pentingnya meningkatkan kewaspadaan. Acara ditutup dengan penyerahan plakat kepada nara sumber oleh Prof. Dr. Luh Putu Sendratari selaku Ketua Pusat Studi Perempuan dan Perlindungan Anak Undiksha.







