Singaraja – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) memperkuat kesiapsiagaan bencana Sekolah Laboratorium (Lab) melalui program pemberdayaan menuju Sekolah Siaga dan Tanggap Bencana yang dilaksanakan pada 2–4 Juni 2026.
Program ini diprakarsai oleh Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Undiksha, Dr. I Wayan Muliarta, S.Pd., M.Or., AIFO, yang juga merupakan peserta Uji Narakarya Dasar Kepramukaan setelah mengikuti Kursus Mahir Dasar (KMD) pada akhir tahun 2025.
Kegiatan berlangsung secara hybrid selama 3 hari. Pada hari pertama, Selasa (2/6/2026), kegiatan dilaksanakan secara daring dengan melibatkan anggota UKM Pramuka Racana Jelantik-Jempiring (RJJ), UKM KSR/PMI Undiksha, tim evakuasi mahasiswa Fakultas Kedokteran Undiksha, serta dihadiri Ketua Kapusdiklat Kwarcab Buleleng, Ketut Sumenari, S.Pd., M.Si.
Dalam sesi tersebut, Dr. I Wayan Muliarta menyampaikan materi tentang Penanggulangan Risiko Bencana (PRB) dan penyusunan prosedur tetap (protap) Sekolah Lab Undiksha. Selanjutnya, pada hari kedua, Rabu (3/6/2026), peserta mengikuti kegiatan penyusunan skenario, latihan, gladi, serta simulasi penanggulangan bencana gempa yang berlangsung di area panggung terbuka Sekolah Lab Undiksha.
Materi Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K) disampaikan oleh Ns. I Kadek Artawan, S.Kep., M.Kep. Di puncak kegiatan Rabu 4/6/2026, serta oleh Tim PkM kegiatan dilanjutkan dengan simulasi gempa bumi dan evakuasi korban sebagai bentuk latihan kesiapsiagaan warga sekolah.
Program ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapsiagaan siswa, guru, serta tenaga kependidikan dalam menghadapi berbagai potensi bencana. Selain itu, kegiatan ini menjadi upaya membangun budaya keselamatan dan kesiapsiagaan sejak dini di lingkungan sekolah.
Acara secara resmi dibuka oleh Prof. Dr. I Gde Wawan Sudatha, S.Pd., S.T., M.Pd., mewakili Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Undiksha. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya sekolah sebagai pusat edukasi kebencanaan yang mampu melahirkan generasi muda yang tangguh dan responsif terhadap situasi darurat.
“Kesiapsiagaan bencana bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah atau lembaga tertentu, tetapi juga perlu ditanamkan sejak dini di lingkungan pendidikan. Sekolah memiliki peran strategis dalam membangun budaya aman dan tangguh bencana,” ujarnya.
Program ini juga mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah. Kepala SMP Lab Undiksha, I Putu Wardana, S.Pd., S.H., M.Pd., menegaskan pentingnya keterlibatan aktif seluruh warga sekolah selama pelatihan berlangsung. Guru olahraga, pembina Pramuka, dan pembina PMI sekolah turut dilibatkan sebagai pendamping untuk memperkuat implementasi keterampilan kesiapsiagaan bencana dalam kegiatan ekstrakurikuler maupun pembelajaran sehari-hari.
Selain menerima materi, peserta juga berdiskusi mengenai berbagai risiko bencana yang berpotensi terjadi di lingkungan sekitar serta strategi penanganannya. Melalui pendekatan interaktif tersebut, warga sekolah diharapkan memiliki pemahaman dan keterampilan dasar yang dapat diterapkan saat menghadapi keadaan darurat.
Pihak sekolah menyambut positif pelaksanaan program ini karena sejalan dengan pengembangan Sekolah Siaga Bencana, yang tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga pembentukan sikap, karakter, dan kemampuan praktis dalam menghadapi bencana.
Melalui kegiatan pemberdayaan ini, Sekolah Lab Undiksha diharapkan menjadi contoh sekolah yang tangguh dan siap menghadapi berbagai potensi bencana, sekaligus berperan sebagai agen perubahan dalam menumbuhkan budaya keselamatan di masyarakat.
“Sekolah Siaga dan Tanggap Bencana bukan hanya sebuah program, melainkan investasi pendidikan untuk melindungi generasi masa depan bangsa.”








